"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Kamis, 11 Juni 2009

Pagelaran Musik "Presiden Balkadaba"

[SURABAYA: 9-10 Juni 2009; 19:30 WIB - Selesai]
Gedung Utama Balai Pemuda
Jalan Gubernur Suryo 15, Surabaya
TIKET: VIP A Rp. 100.000 VIP B Rp. 75.000 Festival Rp. 35.000
Tiket box: hub 031-72151221 atau 031-70876522
[JAKARTA: 20 Juni 2009; 19:30 WIB - Selesai]
Gedung Kesenian Jakarta
Jalan Gedung Kesenian 1, Pasar Baru, Jakarta Pusat
TIKET: VIP Rp.75.000 Festival Rp.50.000
TIKET BOX:

KC : Suparman 0856 8890 200, Arista 0898 994 8876

GKJ: Lia 0811 901 1380, Sarah 0813 1977 3484


Kali ini Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng telah mempersiapkan pagelaran musik-puisi berjudul ‘Presiden Balkadaba’. Rencananya pertunjukan jenis puisi bertutur dengan iringan musik ini akan dipentaskan di Gedung Utama Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya, selama dua hari, 9 – 10 Juni 2009. Pagelaran yang sama juga akan digelar kembali di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 20 Juni 2009 dalam rangka Anniversary Festival VII – 2009.

Anda pasti bertanya apa itu balkadaba? Balkadaba adalah salah satu binatang yang ikut serta masuk dalam rombongan perahu Nabi Nuh untuk berlindung dari banjir besar akibat pencairan kutub selatan yang kemudian mengubah dataran sangat luas dari timur Afrika hingga Papua menjadi archipelago atau kumpulan ribuan pulau-pulau. "Iblis, makhluk Tuhan yang sangat dahsyat kekuatan dan kemampuannya, serta yang penuh rahasia dan kontraversi tugas-tugasnya, diam-diam menyelundupkan dirinya ikut masuk ke perahu Nabi Nuh dengan ‘gandholan’ di ekornya Balkadaba,”
terang Cak Nun.



1.

“….Aku Balkadaba

Aku mengurai diri jadi kristal

Aku bertopeng cahaya palsu

Kupompa teknologi menuju budaya tanpa kecerdasan

Kristalku memancar melalui gelombang

Memecah pikiran manusia sampai terkeping-keping

Menyeret hati mereka ke ruang-ruang gampa

Membanting jiwa manusia hingga terputus saraf-sarafnya…”



2.

“….Aku berpesta pora

Bersama kerumunan manusia

Yang mripatnya telah tiba pada kesanggupan yang terendah dan hina

Yakni melihat hanya beberapa warna yang paling sederhana

Serta membaca kekerdilan angka-angka

Akulah Balkadaba, kupecah diri jadi jutaan kadal-kadal

Menelusup di balik rerumputan, berhijab rimbun dedaunan

Kadal-kadalku mengepung rumahmu

Menyandera tanah, air dan pepohonanmu

Kadal-kadalku menyamar jadi berbagai jenis binatang dan manusia

Aku hadir dan menguasai pasarmu, tanpa bisa kau perhatikan

Kadal-kadalku datang untuk kalian remehkan

Karena meremehkan adalah awal mula kekalahan

Kadal-kadalku berkeliaran supaya tak kalian perhitungkan

Sebab tak dihitung orang adalah modal utama kemenangan

Aku memenuhi bumi agar terlupakan

Aku menguntit ke manapun langkah kalian

Kutandai jalan peradaban kalian yang membentang

Yang segera berujung di gerbang kehancuran….”



3.

“…Tak perlu habiskan waktu memperdebatkan neo-liberalisme. Itu barang lawas, resminya sejak Kultuurstelsel kerja paksa 1830-1870, cuma sekarang caranya sangat canggih, halus dan tidak kentara. Modal utamanya adalah kebodohan rakyat, yang setiap zaman dibikin lebih bodoh dan lebih bodoh lagi: sejak van de Venter datang dengan politik etis, hingga foundation jaman sekarang. Uang hasil perampokan global disisihkan 1-2% untuk biaya pura-pura menolong rakyat kecil. Negara itu papan nama omong kosong, apalagi kalau Pemerintahnya hanya menjadi makelar modal internasional, sehingga memilih pejabat-pejabatnya berdasarkan kepentingan itu….”

Pagelaran puisi-musik “Presiden Balkadaba” ini diselenggarakan Progress Yogyakarta kerjasama dengan Dewan Kesenian Surabaya, Forum Bangbang Wetan, Gedung Kesenian Jakarta dan Komunitas Kenduri Cinta Jakarta.

Yogyakarta, Juni 2009

sumber: kenduricinta.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More