
OLEH: Arief Junianto
Pagelaran musik dan puisi bertajuk Presiden Balkadaba yang dikonduktori penyair Emha Ainun Nadjib di Balai Pemuda, Selasa (9/6) malam, masih nyelekit dan nikmat seperti nyruput kopi panas.
Puisi-puisinya pedas dan panas seiring panasnya pekan kampanye pemilihan presiden 2009 ini. Diiringi dengan musik Kiai Kanjeng yang rancak, membuai, mendayu, mendangdut, ngejazz dan sekali-kali ngerock dari perpaduan bunyi gamelan, gitar, kendang, drum, dan organ.
Pada pementasan yang dihadiri lebih dari 200 penonton tersebut, Emha kerap menyinggung tentang kondisi pemerintahan saat ini seperti perdebatan neolib, IMF, dan USAID. ”Makhluk-makhluk asing seperti IMF, USAID, wewe gombel, atau gondoruwo, silakan masuk, asal bergabung dengan kami, Kabinet Laba Untuk Rakyat,” teriaknya.
Di bagian lain dia dengan lantang berteriak, "Darahku mendidih melihat pejabat-pejabatnya... Mereka tidak layak duduk di kursinya.." Penonton pun bersorak.
Dalam puisi lain penyair dari Desa Menturo, Sumobito, Jombang itu dengan enteng bersuara,” "Di negeri ini satu bisa dianggap dua, tiga atau empat...Dua bisa diundang-undangkan menjadi tiga atau empat...Di negeri ini satu tidak pasti satu, dua tidak benar-benar dua.."
Sebuah sindiran betapa mudahnya keputusan diubah sehingga menciptakan ketidakpastian dan penggambaran watak pejabat yang suka korupsi seperti dalam puisi ini. Renungkan puisi ini: Aku berpesta pora, Bersama kerumunan manusia ..Yang mripatnya telah tiba pada kesanggupan yang terendah dan hina, Yakni melihat hanya beberapa warna yang paling sederhana, Serta membaca kekerdilan angka-angka…
Pentas ini adalah menceritakan perjalanan seorang calon pemimpin menemukan jati diri. Perjalanan tokoh Nun, yang ikut mencalonkan diri menjadi presiden sebuah negara, menemukan banyak hikmah hidup yang baik dan buruk.
Ketika Nun bertemu dengan rakyat jelata seperti Mbah Sudrun di puncak bukit, dia malah mendapatkan petuah mengenai hakekat hidup dan kepemimpinan. Saat capres tadi bertemu dengan Balkadaba memperoleh ilmu politik hitam untuk menggerogoti negara dan memperkaya diri. “Balkadaba adalah seekor hewan yang menurut sejarahnya merupakan hewan yang lulus fit and proper test untuk ikut menumpang di kapal Nabi Nuh sewaktu banjir bandang tengah menenggelamkan sepertiga wilayah bumi,” Cak Nun menjelaskan.
Puisi-puisi yang dibacakannya Cak Nun ini menjadi semacam deklarasi Kabinet Laba untuk Rakyat dalam lakon yang dimainkan untuk menjadi capres lengkap dengan punggawa para menterinya. Disebutkan, ada lima laba yang diusungnya dalam kabinet tersebut, yakni laba rohani, laba akhlak, laba ilmu, laba budaya, dan laba jasad. Konsep laba yang diusungnya tersebut merupakan bukti kejengahannya terhadap segala ketidakberpihakan pemerintah terhadap rakyat.
Baginya, pemerintah saat ini yang tengah masuk dalam wilayah globalisasi, ternyata hanya melakukan pembodohan pada rakyat saja. Melalui dialog antara Putro dan Romo yang diperankan oleh dua orang musisi Kiai Kanjeng, Emha menyinggung soal BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang selama ini dianggap keberhasilan dari kabinet SBY, tidak ubahnya hanya pembodohan pada masyarakat.
”Masa duit-duitnya masyarakat sendiri, terus diberikan pada masyarakat kok bisa disebut sebagai bantuan. Kan lucu,” kata tokoh yang memerankan Romo.
Pertemuan tokoh Nun dengan Balkadaba yang menjadi inti dari pementasan bisa dikatakan merupakan pertemuan yang sifatnya spiritual yang memberikan pencerahan. Dikatakannya, Nun yang sedang demam panas oleh rasa takut negerinya, mengutarakan rencananya pada Balkadaba untuk meninggalkan negerinya saja, jika dia terus menerus merasakan ketidaknyamanan di sini.
Tapi Balkadaba malah mencegah. Dia melarang Nun meninggalkan negerinya, sebab biar bagaimanapun rusaknya, negerinya tetap menjadi bagian dari dirinya, dan tidak bisa begitu saja ditinggalkannya. ”Indonesia itu nyanthol di ekormu sebagaimana iblis yang juga nyanthol di ekorku,” kata Balkadaba yang disoraki penonton.
Menurutnya, pemerintah ternyata belum sepenuhnya paham akan perbedaan antara pemerintah dengan negara. Menurutnya, konsep negara saat ini tengah dijungkir balikkan.
Dia mencontohkan keberadaan KPU (Komisi Pemilihan Umum). Seharusnya KPU adalah lembaga bentukan rakyat, bukan lembaga yang disetir (dikendalikan) oleh presiden. Selain itu, saat ini, pemerintah menjadi tuan rumah, penentu kebijakan, dan memang menjadi tukang perintah. ”Padahal negara itu rumahnya rakyat. Dan pemerintah itu abdinya rakyat. Jadi harusnya jelas, siapa yang jadi majikan dan siapa yang jadi kacung,” tegasnya.
Dalam pentas tersebut, hadir pula Abdul Hadi W.M, seorang penyair sekaligus pengajar di Universitas Paramadina. Dirinya mengatakan bahwa kondisi bangsa ini kini seperti yang dikatakan oleh Fukuyama, yakni manusia tanpa kepala.”Yang dilakoni oleh manusia kini Cuma seputar perut dan dibawahnya. Sedangkan perut ke atas sudah lenyap,” ujarnya.
Pentas pembacaan puisi Presiden Balkadaba tersebut berlangsung hingga Kamis besok di tempat yang sama, yakni Balai Pemuda. Akan tetapi, berbagai improvisasi tidak bisa dipungkiri akan dilakukan oleh Emha Ainun Najib. ”Improvisasi banyak saya lakukan, soalnya saya tidak terbiasa dengan naskah yang saklek. Bahkan tidak menutup kemungkinan nanti akan lahir puisi baru di atas panggung,” jelasnya.
sumber: surabayapost.co.id







0 komentar:
Posting Komentar