oleh :
Ratri Dian Ariani
Alhamdulillah hujan bersedia reda sejak sekitar jam enam sore. Setelah dibuka dengan tadarus, Kenduri Cinta (Jumat, 20/8) diisi dengan sedikit uraian mengenai judul yang dipakai pada malam itu. Nyanyian Sunyi diambil dari judul buku puisi Amir Hamzah. Nyanyian mengacu ke ruang, sedangkan sejarah merupakan hal yang berhubungan dengan waktu. Setelah satu dua kalimat pembukaan itu, masuklah Kiaikanjeng
dan kemudian Cak Nun. Selepas menyanyikan beberapa lagu termasuk Shohibu Baiti,Cak Nun berharap semoga hal itu tidak pernah dianggap sebagai pertunjukan seni, melainkan sebuah sarana spiritual detoxification. Saat ini, hampir semua yang ada merupakan racun. Diam-diam kita sudah bersepakat untuk menganggap racun sebagai bukan-racun, yang ikut pula ditandai oleh Allah dengan adanya “Keong Racun”.