"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Rabu, 22 September 2010

Reportase KC Agustus 2010: “Nyanyian Sunyi di Pojok Sejarah”


oleh : Ratri Dian Ariani
Alhamdulillah hujan bersedia reda sejak sekitar jam enam sore. Setelah dibuka dengan tadarus, Kenduri Cinta (Jumat, 20/8) diisi dengan sedikit uraian mengenai judul yang dipakai pada malam itu. Nyanyian Sunyi diambil dari judul buku puisi Amir Hamzah. Nyanyian mengacu ke ruang, sedangkan sejarah merupakan hal yang berhubungan dengan waktu. Setelah satu dua kalimat pembukaan itu, masuklah Kiaikanjeng
dan kemudian Cak Nun. Selepas menyanyikan beberapa lagu termasuk Shohibu Baiti,Cak Nun berharap semoga hal itu tidak pernah dianggap sebagai pertunjukan seni, melainkan sebuah sarana spiritual detoxification. Saat ini, hampir semua yang ada merupakan racun. Diam-diam kita sudah bersepakat untuk menganggap racun sebagai bukan-racun, yang ikut pula ditandai oleh Allah dengan adanya “Keong Racun”.

Di dalam legenda dan tradisi Jawa, ada sebuah kisah perlombaan lari antara keong dan kancil. Keong adalah lambang dari rakyat kecil yang bodoh, yang lambat jalannya, yang jumlahnya sangat banyak. Dan kancil adalah simbol untuk golongan pengusaha, pejabat, intelektual, yang cerdik dan memainkan perannya dengan sangat ‘kancil’, dan jumlahnya hanya beberapa. Dalam kisah tersebut kancil tidak pernah menang melawan keong karena di manapun si kancil menjejak, di situ telah ada keong. Nah sayangnya, saat ini peran keong tersebut diambil oleh keong yang beracun sehingga kalimat ungkapan yang menyertai usaha kita pun adalah “Bersama kita bisa!” (kata ‘bisa’ merupakan homonim untuk makna ‘dapat’ dan ‘racun berbahaya’).
Mendengar uraian dari Cak Nun yang terkesan othak-athik-gathuk, para jamaah tertawa.Namun tampaknya Cak Nun tidak sedang sekadar mempermainkan kata-kata saja. “Lahirnya Anda bukan pada hari Anda dilahirkan, melainkan sejak sekian zaman sebelum Anda,” yang kemudian disambung dengan “Sejak kita bikin Pancasila,sebenarnya kita sudah tahu Indonesia akan menjadi seperti ini.”

Lantas Cak Nun menguraikan ‘kekacauan’ dari sila-sila dari dasar negara kita itu. Sila pertama, ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Kata yang bisa ditambah dengan imbuhan ke-an adalah kata-kata sifat yang dengan pengimbuhan itu akan berubah menjadi kata benda. Maka yang dimaksud ‘Tuhan’ dalam kata ‘ketuhanan’ itu bukanlah Tuhan sebagai subjek melainkan sebagai unsur. Tuhantidak pernah hadir, Tuhan tidak pernah penting, Tuhan tidak dilibatkan sejakawal. Yang kita pentingkan adalah rasa dari Tuhan atau rasa-rasanya Tuhan. Rasaitu bahkan kemudian ditafsirkan sebagai kurma, kolak untuk ta’jil, dansebagainya. Makin tidak benar lagi ketika kata ‘ketuhanan’ digabungkan dengan’yang maha esa’. Siapa yang Maha Esa? Tuhan atau rasa ketuhanannya? Frasa yang cocok untuk melanjutkan kata ‘ketuhanan’ adalah ‘yang maha tak terbatas’.
Sila kedua, ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’. Lagi-lagi, kata ‘kemanusiaan’ dapat kita pertanyakan maksudnya. Kemudian siapa yang adil dan beradab? Apa itu adil? Apa itu adab? Kata ‘adab’ jika ‘a’ dan ‘da’ yang digunakan bersifat panjang, mengandung makna komprehensi dari seluruh komponen yang menyusun konfigurasi peradaban. Di sisi lain, ‘adab’ dengan ‘a’ dan ‘da’ pendek mengandung arti sopan santun. Kita butuh pemetaan yang jelas, yang dimaksud dengan adab di dila kedua itu adab yang mana?
Selama ini, banyak disebarkan wacana pluralisme dan/atau persatuan di tengah peradaban yang tidak adil. Padahal pluralisme dan persatuan bukanlah untuk dibicarakan, bukan untuk dihimbaukan. Yang perlu dilakukan adalah pewujudan keadilan sebagai syarat tumbuhnya pluralisme dan persatuan itu. Pada sila ketiga, ‘Persatuan Indonesia’, sebenarnya kita masih bingung dan tertukar-tukar antara kata persatuan (sesuatu yang hanya ada satu), kesatuan (hal-hal berbeda yang menjadi satu), dan penyatuan (proses menjadikan hal-hal yang berbeda menjadi satu).
Dari Pancasila Cak Nun melompat ke posisi Indonesia dan dunia. “Indonesia itu makrokosmos, sedangkan dunia itu mikrokosmos, karena semua yang ada di dunia pasti ada di Indonesia dan apa yang ada di Indonesia belum tentu ada di dunia. Secara ekonomi, contohnya, dunialah yang membutuhkan Indonesia dan bukan sebaliknya.
Saat ini, Indonesia sedang menjadi kandidat untuk memimpin dunia. “Kalau Anda melakukan sesuatu yang baik itu Allah pasti meridhoi atau mudah-mudahan Allah meridhoi?” tanya Cak Nun pada hadirin,”Lho kenapa mudah-mudahan? Wong pasti baik kok?” Hal yang tidak bisa menimbulkan kesombongan adalah jika kita bekerja untuk mengharap ridhallah,karena dengan itu kita hanya melakukan sesuatu yang kita yakini benar. Jadi kita harus punya keyakinan bahwa Tuhan meridhai kita karena kita akan menjadi penakut jika tak punyai keyakinan itu.”
Cak Nun melanjutkan uraian di atas dengan kisah tentang rajawali, satu spesies burung yang mempunyai potensi umur seperti manusia yaitu sekitar 60 – 70 tahun. Namun pada usia 40 tahun si rajawali akan mengasingkan diri ke pegunungan tinggi dan sepi, mencari batu paling keras untuk dipatuknya sampai paruh lepas dari mulutnya. Begitu pula dengan kuku-kuku tajamnya. Dengan tanpa ’senjata’ itu si rajawali menghidupi berbulan-bulan hidupnya. Rajawali yang mampu bertahan dengan kondisi itulah yang kemudian tumbuh menjadi Garuda.”Kalau kita tidak mampu melakukan revolusi diri, tidak ada harapan untuk melakukan apapun.”
“Apakah ada bupati yang benar-benar berani mencopot paruh (jabatan)-nya? Apakah Anda pikir SBY tenang-tenang saja menghadapi 2014? Ndak! Dia mengupayakan berbagai cara supaya yang menduduki jabatannya nanti adalah masih orang di dalam jaringannya.” Maka yang berusaha ditimbulkan di Maiyah adalah kepercayaan diri untuk tidak berparuh dan berkuku tajam. Dengan begitu, yang akan timbul kemudian adalah paruh Garuda.
Revolusi rajawali menjadi garuda itu dalam sejarah telah dilakukan oleh Majapahit, yang darinyalah ilham ke-Indonesia-an berasal.Majapahit sedang berada dalam kejayaannya sebagai negara agraris ketika Canggu, pusat pemerintahan Majapahit, diguncang perubahan besar-besaran pada lempeng batuannya sehingga ia harus mau berubah. Dengan dikawal Sunan Kalijogo Majapahit berani melakukan revolusi sehingga menjadi negara maritim dan perdagangan global.
Hadir pula Agung Waskito, penulis ‘Aku Ingin Pulang’ (yang beberapa tahun lalu dijadikan sinetron ‘yang-sangat-mengecewakan-penulisnya’ di salah satu stasiun televisi), sutradara teater di Jogja yang juga menjadi sutradara atas Syair lautan Jilbab’. Beliau mengutarakan rencananya untuk membuat ‘Syair Lautan Jilbab : the Movie’.  Setting awalnya adalah di Padang Mahsyar, di mana ternyata banyak sekali orang yang tidak mempunyai barisan,bahkan para ustadz, kiai, dan sebagainya. Setelah itu flashback ke belakang.

Mengomentari Padang Mahsyar, Cak Nun berkata bahwa ada pergunjingan di sana kelak mengenai kitab-kitab suci. Kitab pertama yang diturunkan untuk umat manusia adalah Taurat, kemudian Zabur, Injil dan Al-Quran. Dunia bertengkar mengenai keempat kitab suci itu, saling berebut benar. Padahal, perjalanan kitab suci itu kalau mau dianalogikan sepert ievolusi dari bluluk menjadi cengkir menjadi degan menjadi  klopo (kelapa). Ada berapa buah kelapa itu? Satu. pertanyaan yang sama bisa digunakan untuk kitab suci.
Seperti juga apa yang diributkan di Israel, Palestina, itu sebenarnya merupakan majma’ al-bahrain (pertemuan dua laut, pertemuan asin dan tawar). “Nek awakmu mengalami benturan-benturan, asin dan tawar, manis dan pahit, di situlah sebenarnya Allah kasih tanda sesuatu yang seharusnya mati menjadi hidup kembali.” Hamas dan Israel adalah mitra dagang yang sangat mesra.Kita tidak usah khawatir Masjidil Aqsa akan diapa-apain sama Israel. Tidak,walaupun bukan berarti bahwa Israel juga akan melepasnya. Allah akan selalu memelihara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa, itu sudah pasti.
Pertanyaan yang bisa muncul berkaitan dengan kitab : “Mengapa manusia harus hhidup dengan kitab?” Ada dua pengertian terkait dengan kitab, yaitu yang bersifat empiris dan yang bersifat tekstual. Yang pertama adalah diri manusia dan alam semesta. Yang kedua adalah kitab dalam pengertian lembaran-lembaran kertas.
Pada zaman dahulu, manusia mampu menggunakan ukuran-ukuran sendiri, seperti pertimbangan rasional, untuk berbuat baik. Lama kelamaan kemampuan itu berkurang sehingga manusiabutuh kitab untuk menjalani kehidupannya agar tak tersesat. Dalam kehidupan, yang harus ditegakkan bersama-sama adalah amannya harta benda (belonging), martabat (human dignity),  dan nyawa (life). Dan untuk mewujudkannya tidak harus melalui negara.
Selain itu Cak Nun juga menyinggung mengenai keistimewaanYogyakarta. Salah satu tokoh yang mendukuni dan mendanai kelahiran Indonesia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tanah UGM, stasiun dan sebagainya awalnya adalah tanah milik Keraton. Dan sampai sekarang, tidak ada apresiasi dari negara dalam ukuran yang semestinya kepada Yogyakarta.
Ustadz Nursamad Kamba mengawali uraiannya dengan berbicara filsafat. Ada tiga dimensi dalam agama. Secara ontologis, agama mengajarkan bahwa hanya Allah yang wujud dan mewujudkan semuanya. Epistemologi mengatakan bahwa tidak ada wujud yang tidak diketahui. Dalam kosmologi, yang namanya manusia adalah proses terakhir dari hierarki dan struktur penciptaan.
Allah berkata bahwa Dia menyendiri tetapi Dia suka dikenal, maka diciptakan-Nyalah ciptaan-ciptaan, di mana ciptaan pertama adalah berupa Nuur. Yang membuat manusia hidup bukanlah raganya, melainkan apa yang disebu troh. Roh adalah pasukan Allah yang telah disiagakan. Segala sesuatu bertasbih kepada-Nya dalam harmoni, kecuali manusia yang keluar dari koordinat. Peradaban yang lepas dari spiritualitas merupakan peradaban bangkai.

Nabi Khidir, generasi kelima dari Nabi Nuh, diberi oleh Allah keistimewaan untuk bisa menjadi perantara tajaliyyat di setiap masa.Ustadz Nursamad Kamba mengaku melihat figur Nabi Khidir pada sosok Muhammad Ainun Nadjib.

Menyambung uraian dari Ustadz Nursamad Kamba, Cak Nun menyatakan bahwa Nabi Khidir diberi hak untuk mengetahui rahasia hari ini, masa depan, dan masa silam. Peristiwa Khidir melubangi perahu memberikan pelajaran pada kita bahwa jika ingin tidak dirampok, jangan hedonis. Maka ilmu Maiyah adalah meruhaniakan segala materi, atau dengan kata lain menemukan sambungan dari setiap apa saja dengan Allah.
Khidir membunuh anak kecil yang mempunyai potensi kekufuran yang tinggi memberi pelajaran bahwa kita harus mampu membunuh potensi kufur dalam diri kita sendiri supaya pada akhirnya kita yang dikalahkan. Yang terjadi pada negara ini adalah membiarkan si anak kecil tumbuh, dan sekarang anak itu sudah terlanjur besar sehingga mengalahkan Indonesia. Nabi Khidir menegakkan pagar karena tahu ada harta di dalamnya (pengetahuan mengenai masa silam) tidak dipahami oleh Musa. Maka yangdilakukan Khidir-modern (setiap 500 tahun ada Khidir) adalah juga menegakkanpagar itu.
Islam datang ke tanah Nusantara sejak abad VII (sejak zamanBorobudur), menyelamatkan Majapahit. Kemudian Islam digunakan untuk menghancurkan NKRI. Nanti, Islam pula yang akan datang menyelamatkan NKRI.
Pada masa Majapahit, Sunan Ampel memberikan mandat kepada Sunan Kalijogo untuk mereformasi total Negara Kesatuan Majapahit menjadi Federasi Demak. Yang dilakukan Sunan Kalijogo pertama kali adalah meng-Islam-kan para empu (militer). Sebuah fakta bahwa Majapahit yang mampu menguasai bahkan Filipina ternyata tidak mampu meng-cover Kediri.
Setelah militer berhasil di-Islam-kan, berikutnya adalah para anggota DPR, dan selanjutnya para anggota keluarga Brawijaya. Dari 147anak Brawijaya, semuanya merupakan murid dari Sunan Kalijogo. Ide federasi (konsep desentralisasi) Sunan Kalijogo direalisasikan dengan membuat tanah-tanah perdikan (asal kata’merdeka’) yang masing-masingnya dipimpin oleh anak-anak dari Brawijaya dengan gelar Ki Ageng (salah satunya Ki Ageng Mangir), Batara, dan sebagainya.
Secara sosial budaya, golongan-golongan terkait dengan Islam di Majapahit dapat dibagi menjadi tiga, yaitu golongan utara (para santri,Hizbut Tahrir, PKS, PPP), golongan tengah (rombongan Islam yang tidak kentara :Golkar), dan

golongan selatan (menolak Islam, Sabdopalon Noyogenggong : PDI). Prabu Brawijaya termasuk di dalam golongan tengah, yang kemudian menuju Candi Cetho di Gunung Lawu dengan dikawal oleh Sunan Kalijogo. Di samping mengawal Prabu Brawijaya V, Sunan Kalijogo juga tetap menemani golongan Sabdopalon Noyogenggong.
Sunan Kalijogo melakukan apa saja tanpa terkotak sebagaiwali atau seniman. Dia juga seorang pelaku politik paling berpengaruh di Nusantara. Sunan Kalijogo pula yang meminta Raden Timbal, pembunuh ayah Sunan Kudus, untuk menjadi senopati utama Kerajaan Demak. Sunan Kalijogo datang pula ke Mangiran, Jogja Selatan, dengan 25 pasukan. Dari situlah Ki Ageng Mangir meninggalkan Mangiran untuk berguru kepada Sunan Kalijogo dengan syarat menjadi naga yang mampu mengitari gunung, yang mengandung arti mampu mendakwahkan Islam di daerah sekitar Gunung Merapi-Merbabu-Tidar, yaitu daerah Magelang, Kedu,Wonosobo. Sunan Kalijogo-lah yang telah mengawal Majapahit, Demak,Pajang, dan Mataram. Saat ini, kita sedang menjadi Pelaku Sejarah.

Ratri Dian Ariani

21 Agustus 2010, 10.55

Sumber:KC

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More