Senin, 01 Juni 2009 | 09:49 WIB
TEMPO Interaktif, Padang: Gunung yang diduga gunung api raksasa di dasar laut yang ditemukan sekitar 330 km di perairan barat Bengkulu dan bagian selatan dan barat Sumatera Barat tidak perlu dikhawatirkan dan bukan ancaman karena belum tentu aktif.
Koordinator Pusat Pengendalian dan Operasional Kesiagaan Bencana Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Ade Edwar, Senin (1/5) mengatakan, Gunung tersebut terdeteksi saat survei ‘Studi Risiko Kegempaan dan Tsunami’ di perairan barat Sumatera pada Mei 2009 selama 20 hari dengan kapal seismik Geowave Champion milik CGGVeritas. Survei tersebut kerjasama BPPT dengan LIPI, Departemen ESDM, CGGVeritas, dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.
Gunung itu tingginya sekitar 4.600 meter pada kedalaman 5.900 meter dengan lebar 50 km. Puncaknya berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan air laut. Gunung tersebut lebih tinggi dari puncak Jayawijaya di Papua yang tingginya 4.000 meter. Lokasi dan citranya dapat dilihat di situs google eart pada koordinat (4*20’37,16”S-99*26’3,25”E).
“Peneliti geologi Indonesia, USA dan Perancis minggu lalu konfirmasi tentang gunung dasar laut di barat-selatan Sumatera Barat-Bengkulu yang diduga sebagai gunung api raksasa,
secara teoritis keberadaan gunung api pada busur samudera tidak menimbulkan ancaman bahaya atau bencana yang besar bagi masyarakat Sumatera Barat dan Bengkulu karena tidak bersifat explosive,”kata Ade Edwar yang juga ahli geologi ini.
Menurut Ade, gunung dasar laut itu juga berada di luar ZEE atau di perairan internasional, jaraknya 330 km dari pantai Kabupaten Muko-Muko di Bengkulu dan Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, tapi pulau yang lebih dekat lagi adalah Pulau Pagai di Kepulaun Mentawai.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, lagi pula, gunung tersebut belum tentu aktif. Bahkan kemungkinan besar sudah mati. Sebab jika ia aktif, selama ini pasti lokasi tersebut sudah sering tercatat menimbulkan gempa bumi. Sebab salah satu karakteristik gunung api aktif adalah menimbulkan gempa,” kata Ade Edward.
Letak dan kondisi gunung ini, kata Ade Edward sangat berbeda dengan Krakatau yang terletak sangat dekat atau 70 km dari Pulau Sumatera, sehingga beresiko bencana terhadap daerah dan penduduk Sumatera dan Jawa.
“Jauh lebih besar potensi ancaman gempa dan tsunami di Mentawai daripada gunung ini, perbandingannya satu banding seribu, ancaman tsunami Mentawai diperkirakan bisa merusak pantai barat Sumatra sepanjang 450 km,” kata Ade Edward.
FEBRIANTI
Sumber : Tempo Interaktif







1 komentar:
Penemuan yang laur biasa, tapi yang namanya bencana jangan dianggap remeh.
Posting Komentar