"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Selasa, 23 Juni 2009

Membangun Proxy dengan Squid

Proxy server berfungsi untuk membuat salinan data yang dibaca dari Internet ke jaringan lokal kita sehingga jika di lain waktu kita mengakses data yang sama, maka data tersebut akan diambil dari jaringan lokal kita sehingga akan sangat menghemat bandwith kita ke Internet.

Squid adalah proxy server yang paling stabil dan paling umum digunakan untuk sistem operasi Linux. Instalasi dan setting squid tidak sesulit yang anda bayangkan, dalam artikel ini penulis akan berusaha untuk menunjukkan caranya.

Dalam artikel ini penulis menggunakan squid-2.3.STABLE1-5.1386.rpm, anda dapat mencarinya pada CD distribusi Linux anda atau dari Internet, anda dapat mencoba mencarinya di www.rpmfind.net.

Setelah anda mendapatkan file tersebut, perintah untuk menginstalnya adalah sebagai berikut:

bash# rpm -ivh squid-2.3.STABLE1-5.i386.rpm

Kamis, 11 Juni 2009

Pagelaran Musik "Presiden Balkadaba"

[SURABAYA: 9-10 Juni 2009; 19:30 WIB - Selesai]
Gedung Utama Balai Pemuda
Jalan Gubernur Suryo 15, Surabaya
TIKET: VIP A Rp. 100.000 VIP B Rp. 75.000 Festival Rp. 35.000
Tiket box: hub 031-72151221 atau 031-70876522
[JAKARTA: 20 Juni 2009; 19:30 WIB - Selesai]
Gedung Kesenian Jakarta
Jalan Gedung Kesenian 1, Pasar Baru, Jakarta Pusat
TIKET: VIP Rp.75.000 Festival Rp.50.000
TIKET BOX:

KC : Suparman 0856 8890 200, Arista 0898 994 8876

GKJ: Lia 0811 901 1380, Sarah 0813 1977 3484


Kali ini Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kiai Kanjeng telah mempersiapkan pagelaran musik-puisi berjudul ‘Presiden Balkadaba’. Rencananya pertunjukan jenis puisi bertutur dengan iringan musik ini akan dipentaskan di Gedung Utama Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya, selama dua hari, 9 – 10 Juni 2009. Pagelaran yang sama juga akan digelar kembali di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 20 Juni 2009 dalam rangka Anniversary Festival VII – 2009.

Anda pasti bertanya apa itu balkadaba? Balkadaba adalah salah satu binatang yang ikut serta masuk dalam rombongan perahu Nabi Nuh untuk berlindung dari banjir besar akibat pencairan kutub selatan yang kemudian mengubah dataran sangat luas dari timur Afrika hingga Papua menjadi archipelago atau kumpulan ribuan pulau-pulau. "Iblis, makhluk Tuhan yang sangat dahsyat kekuatan dan kemampuannya, serta yang penuh rahasia dan kontraversi tugas-tugasnya, diam-diam menyelundupkan dirinya ikut masuk ke perahu Nabi Nuh dengan ‘gandholan’ di ekornya Balkadaba,”

Awas, Balkadaba Nyanthol di Ekor Capres


OLEH: Arief Junianto



Pagelaran musik dan puisi bertajuk Presiden Balkadaba yang dikonduktori penyair Emha Ainun Nadjib di Balai Pemuda, Selasa (9/6) malam, masih nyelekit dan nikmat seperti nyruput kopi panas.

Puisi-puisinya pedas dan panas seiring panasnya pekan kampanye pemilihan presiden 2009 ini. Diiringi dengan musik Kiai Kanjeng yang rancak, membuai, mendayu, mendangdut, ngejazz dan sekali-kali ngerock dari perpaduan bunyi gamelan, gitar, kendang, drum, dan organ.

Pada pementasan yang dihadiri lebih dari 200 penonton tersebut, Emha kerap menyinggung tentang kondisi pemerintahan saat ini seperti perdebatan neolib, IMF, dan USAID. ”Makhluk-makhluk asing seperti IMF, USAID, wewe gombel, atau gondoruwo, silakan masuk, asal bergabung dengan kami, Kabinet Laba Untuk Rakyat,” teriaknya.

Di bagian lain dia dengan lantang berteriak, "Darahku mendidih melihat pejabat-pejabatnya... Mereka tidak layak duduk di kursinya.." Penonton pun bersorak.

Dalam puisi lain penyair dari Desa Menturo, Sumobito, Jombang itu dengan enteng bersuara,” "Di negeri ini satu bisa dianggap dua, tiga atau empat...Dua bisa diundang-undangkan menjadi tiga atau empat...Di negeri ini satu tidak pasti satu, dua tidak benar-benar dua.."

Sebuah sindiran betapa mudahnya keputusan diubah sehingga menciptakan ketidakpastian dan penggambaran watak pejabat yang suka korupsi seperti dalam puisi ini. Renungkan puisi ini: Aku berpesta pora, Bersama kerumunan manusia ..Yang mripatnya telah tiba pada kesanggupan yang terendah dan hina, Yakni melihat hanya beberapa warna yang paling sederhana, Serta membaca kekerdilan angka-angka…

Pentas ini adalah menceritakan perjalanan seorang calon pemimpin menemukan jati diri. Perjalanan tokoh Nun, yang ikut mencalonkan diri menjadi presiden sebuah negara, menemukan banyak hikmah hidup yang baik dan buruk.

Ketika Nun bertemu dengan rakyat jelata seperti Mbah Sudrun di puncak bukit, dia malah mendapatkan petuah mengenai hakekat hidup dan kepemimpinan. Saat capres tadi bertemu dengan Balkadaba memperoleh ilmu politik hitam untuk menggerogoti negara dan memperkaya diri. “Balkadaba adalah seekor hewan yang menurut sejarahnya merupakan hewan yang lulus fit and proper test untuk ikut menumpang di kapal Nabi Nuh sewaktu banjir bandang tengah menenggelamkan sepertiga wilayah bumi,” Cak Nun menjelaskan.

Puisi-puisi yang dibacakannya Cak Nun ini menjadi semacam deklarasi Kabinet Laba untuk Rakyat dalam lakon yang dimainkan untuk menjadi capres lengkap dengan punggawa para menterinya. Disebutkan, ada lima laba yang diusungnya dalam kabinet tersebut, yakni laba rohani, laba akhlak, laba ilmu, laba budaya, dan laba jasad. Konsep laba yang diusungnya tersebut merupakan bukti kejengahannya terhadap segala ketidakberpihakan pemerintah terhadap rakyat.

Baginya, pemerintah saat ini yang tengah masuk dalam wilayah globalisasi, ternyata hanya melakukan pembodohan pada rakyat saja. Melalui dialog antara Putro dan Romo yang diperankan oleh dua orang musisi Kiai Kanjeng, Emha menyinggung soal BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang selama ini dianggap keberhasilan dari kabinet SBY, tidak ubahnya hanya pembodohan pada masyarakat.

”Masa duit-duitnya masyarakat sendiri, terus diberikan pada masyarakat kok bisa disebut sebagai bantuan. Kan lucu,” kata tokoh yang memerankan Romo.

Pertemuan tokoh Nun dengan Balkadaba yang menjadi inti dari pementasan bisa dikatakan merupakan pertemuan yang sifatnya spiritual yang memberikan pencerahan. Dikatakannya, Nun yang sedang demam panas oleh rasa takut negerinya, mengutarakan rencananya pada Balkadaba untuk meninggalkan negerinya saja, jika dia terus menerus merasakan ketidaknyamanan di sini.

Tapi Balkadaba malah mencegah. Dia melarang Nun meninggalkan negerinya, sebab biar bagaimanapun rusaknya, negerinya tetap menjadi bagian dari dirinya, dan tidak bisa begitu saja ditinggalkannya. ”Indonesia itu nyanthol di ekormu sebagaimana iblis yang juga nyanthol di ekorku,” kata Balkadaba yang disoraki penonton.

Menurutnya, pemerintah ternyata belum sepenuhnya paham akan perbedaan antara pemerintah dengan negara. Menurutnya, konsep negara saat ini tengah dijungkir balikkan.

Dia mencontohkan keberadaan KPU (Komisi Pemilihan Umum). Seharusnya KPU adalah lembaga bentukan rakyat, bukan lembaga yang disetir (dikendalikan) oleh presiden. Selain itu, saat ini, pemerintah menjadi tuan rumah, penentu kebijakan, dan memang menjadi tukang perintah. ”Padahal negara itu rumahnya rakyat. Dan pemerintah itu abdinya rakyat. Jadi harusnya jelas, siapa yang jadi majikan dan siapa yang jadi kacung,” tegasnya.

Dalam pentas tersebut, hadir pula Abdul Hadi W.M, seorang penyair sekaligus pengajar di Universitas Paramadina. Dirinya mengatakan bahwa kondisi bangsa ini kini seperti yang dikatakan oleh Fukuyama, yakni manusia tanpa kepala.”Yang dilakoni oleh manusia kini Cuma seputar perut dan dibawahnya. Sedangkan perut ke atas sudah lenyap,” ujarnya.

Pentas pembacaan puisi Presiden Balkadaba tersebut berlangsung hingga Kamis besok di tempat yang sama, yakni Balai Pemuda. Akan tetapi, berbagai improvisasi tidak bisa dipungkiri akan dilakukan oleh Emha Ainun Najib. ”Improvisasi banyak saya lakukan, soalnya saya tidak terbiasa dengan naskah yang saklek. Bahkan tidak menutup kemungkinan nanti akan lahir puisi baru di atas panggung,” jelasnya.

sumber: surabayapost.co.id

Rabu, 03 Juni 2009

Jangan Biarkan TNI AL Sendirian di Ambalat!


JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah kalangan menilai wajar kehadiran armada perang Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah perairan Blok Ambalat, menyusul provokasi yang berkali-kali dilakukan oleh pihak angkatan bersenjata Malaysia di kawasan yang dipahami kaya dengan cadangan sumber daya alam minyak dan gas bumi.

Kehadiran armada perang RI di sana, selain memang untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari intervensi dan invasi negara luar, juga menjadi bentuk diplomasi kapal-senjata (gun-boat diplomacy). Namun begitu tetap, langkah diplomasi macam itu juga harus diikuti dengan upaya diplomasi pemerintah, dalam hal ini Departemen Luar Negeri (Deplu).

Sayangnya sepanjang masa pemerintahan sekarang, kemampuan dan efektivitas diplomasi Indonesia semakin diragukan akibat berbagai kelemahan yang ditunjukkannya. "Jangan biarkan TNI Angkatan Laut seolah berdiri sendiri mempertahankan kedaulatan RI

Kapal Malaysia Makin Nekat



Rabu, 3 Juni 2009 | 05:54 WIB

TARAKAN, KOMPAS.com — Kapal Malaysia yang mencuri ikan di perairan Indonesia makin nekat beroperasi. Operasi Polri untuk memerangi pencurian ikan (illegal fishing) tak membuat jera kapal asing, termasuk asal Malaysia.

Dalam sebulan terakhir, Mabes Polri menangkap 11 kapal nelayan Malaysia asal Tawau yang tengah mencuri di perairan Kalimantan Timur. Selama Januari-Mei 2009 polisi sudah menangkap sebanyak 48 kapal nelayan Malaysia

Gunung Api Dasar Laut di Perairan Barat Sumatera Bukan Ancaman

Senin, 01 Juni 2009 | 09:49 WIB

TEMPO Interaktif, Padang: Gunung yang diduga gunung api raksasa di dasar laut yang ditemukan sekitar 330 km di perairan barat Bengkulu dan bagian selatan dan barat Sumatera Barat tidak perlu dikhawatirkan dan bukan ancaman karena belum tentu aktif.

Koordinator Pusat Pengendalian dan Operasional Kesiagaan Bencana Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Ade Edwar, Senin (1/5) mengatakan, Gunung tersebut terdeteksi saat survei ‘Studi Risiko Kegempaan dan Tsunami’ di perairan barat Sumatera pada Mei 2009 selama 20 hari dengan kapal seismik Geowave Champion milik CGGVeritas. Survei tersebut kerjasama BPPT dengan LIPI, Departemen ESDM, CGGVeritas, dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

Gunung itu tingginya sekitar 4.600 meter pada kedalaman 5.900 meter dengan lebar 50 km. Puncaknya berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan air laut. Gunung tersebut lebih tinggi dari puncak Jayawijaya di Papua yang tingginya 4.000 meter. Lokasi dan citranya dapat dilihat di situs google eart pada koordinat (4*20’37,16”S-99*26’3,25”E).

“Peneliti geologi Indonesia, USA dan Perancis minggu lalu konfirmasi tentang gunung dasar laut di barat-selatan Sumatera Barat-Bengkulu yang diduga sebagai gunung api raksasa,

Selasa, 02 Juni 2009

Yayasan Sastra Selamatkan 6.000 Naskah Kuno


Rabu, 27 Mei 2009 | 02:40 WIB

SOLO, KOMPAS.com--Yayasan Sastra Surakarta berhasil menyelamatkan dan melestarikan sekitar 6.000 naskah kuno bertuliskan huruf Jawa.

"Ribuan naskah ini dibeli dari pedagang buku dan tidak ada satu pun yang berasal dari perpustakaan Indonesia," kata Komisaris Yayasan Sastra Surakarta Jhon Peterson, di Solo, Selasa.

Dia mengatakan, naskah-naskah kuno yang umurnya rata-rata di atas 50 tahun tersebut tidak ada satu pun yang ada stempelnya dari perpustkaan Museum Radya Pustaka, Pura Mangkunegaran maupun Keraton Kasunanan Surakarta.

Menyimak Dongeng Pancasila Garin dan Franky



Selasa, 2 Juni 2009 | 02:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com--Bagaimanakah anda menerjemahkan Pancasila dalam kehidupan anda? Boleh jadi membayangkan terjemahan Pancasila adalah hapalan dari sila-sila yang ada pada Pancasila, atau menjalani penataran P4 seperti pada zaman Orde Baru dulu.

Bagi dua seniman semacam Garin Nugroho dan Franky Sahilatua, memaknai Pancasila ternyata bisa sedemikian luas dan indah. Menerjemahkan Pancasila bagi keduanya bisa berarti pertemuan masyarakat gunung dan pantai di daratan flores, di mana terjadi pertukaran antara garam dan terung, ikan dan ketela. Sebuah kegiatan ekonomi yang tak butuh teori yang diimpor dari Barkley atau institusi pendidikan besar lainnya. Semua praktik kehidupan berjalan secara wajar, saling menguntungkan.

Berlangsung di Bentara Budaya Jakarta pada Senin (1/6) mulai pukul 19.00 WIB, musisi Franky Sahilatua dan sutradara Garin Nugroho menggelar

Hati-hati, Jangan Terjebak Debat Personal! Ilustrasi




Selasa, 2 Juni 2009 | 13:49 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik, Bima Arya Sugiarto, mengingatkan para tim sukses agar tidak terjebak pada perdebatan yang mengarah ke personality para kandidat. Perdebatan yang bersifat personality akan melunturkan pertarungan di level gagasan yang akan diusung para calon.

Ia mencontohkan, serangan yang dilayangkan Rizal Mallarangeng atas kuda-kuda yang dimiliki Prabowo dan riwayat kariernya di militer, serta JK yang lebih mengedepankan gaya kepemimpinan. "Bagus memang, tapi jangan-jangan kita hanya mendapatkan diferensiasi yang sifatnya personal dan bukan gagasan yang lebih produktif," kata Bima pada debat publik 'Perang Udara Pilpres 2009 ', Selasa (2/6) di Jakarta.

Bima juga mengatakan, perdebatan seharusnya tidak hanya terjadi di level tim sukses. Namun

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More