"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Rabu, 27 Agustus 2008

Antara kepastian dan ketidak pastian

Taukah anda apa yang menjadi ketakutan saya saat ini, adalah hal yang klasik bagi sebagian besar anak remaja seperti saya ini, yaitu timbulnya berjuta pertanyaan yang sungguh membuat diri ini tak kuasa di buatnya.

Di antara berjuta pertanyaan itu antara lain adalah: apakah saya bisa lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan, apakah setelah lulus kuliah saya langsung bisa dapat kerja, atau apakah saya akan menemukan pasangan hidup saya yang ideal bagi saya dengan segera? dan tentunya masih ada banyak pertanyaan lain lagi yang tak kalah membuat urat syaraf otak saya berkontraksi begitu kencangnya, mungkin keadaan ini begitu pula dengan teman-teman pembaca sekalian.

Ada berjuta keinginan yang masih saya kobarkan di dalam dada saya berharap suatu saat saya bisa menggapai segala apa yang menjadi keinginan saya itu, saya pun sadar akan konsekuensi yang setidaknya akan saya terima jikalau

Jumat, 22 Agustus 2008

Dongeng guruku

hallo,para pembaca yang budiman....kali ini saya mau mencoba mengutarakan pengalaman saya waktu masih duduk di bangku sekolah menengah kejurun di Banjarnegara sana. Agak serius neeh...ehm.

Pagi itu di kelas kami, sedeng menerima pelajaran "logam dasar" dari guru kami. Beliau bernama Bapak Iman ustaat, dengan pembawaan yang tegas dan disiplin seraya memberi contoh kepada semua anak didiknya, oya hampir lupa...setiap pelajarannya, Beliau pasti selalu membawa kertas kosong untuk di bagikan kepada kami untuk mengerjakan soal semacam ulangan harian, di akhir jam mengajarnya beliau sedikit bercerita kepada kami dengan nada yang agak santai, maklum semua tugas sedah selesai...

Anak-anak...emh! (tegas beliau)

Kamis, 21 Agustus 2008

jiwa yang menyelasai

Pernah suatu saat saya mendengarkan salah satu station radio di jakarta yang namanya delta-fm. Saat itu pukul 23.30 sambil rebahan menjelang tidur saya mendengarkannya melalui radio walkman, maklum sebagai anak kost cuma itu hiburan yang saya miliki waktu itu...

Nampaknya di station radio itu sudah menjadi acara rutin semacam wejangan begitu...untuk para pendengarnya, disitu yang menjadi pembicaranya seorang budayawan Emha Ainun Najib "Cak nun" begitu orang menyebutnya, dalam pokok bahasannya malam itu adalah"hati yang menyelasai" pertama mendengarnya saya pun ndak tau apa maksud dari istilah itu, beliau bercerita tentang bagaimana caranya menyikapi sesuatu dalam hidup ini dan kejadian-kejadian apa yang akan kita temua semasa hidup kita ini, di situ di gambarkan dalam bahasanya :

"pernah suatu saat saya beserta rombongan kyai kanjeng (ucap cak-nun), dalam perjalanan pulang dari jakarta setelah mengadakan pertunjukan budaya ke kota asalnya jogjakarta,di tengah perjalan pulangnya beserta rombongan (disitu diceritakan mendekati kota purwokerto) si sopir bus pembawa rombongan memutuskan untuk menepi ke pom bensin karena si sopir ingin buang air kecil,dan ada sebagian rombongan yang lain juga ikut turun karana mereka juga ndak tahan ingin buang air kecil juga,dengan mata yang menahan kantuk luarbiasa merekapun turun dari bus untuk bergegas ke toilet, setelah mereka selasai buang air kecil merekapun bergegas ke bus lagi untuk melanjutkan perjalanan ke kota jogjakarta, nah dari sini cerita itu berawal....


nampaknya ada salah satu dari rombongan yang tertinggal, karena temen-temen yang lain juga ndak ngeh, karena mereka dalam posisi yang luar biasa kantuk sekali, dan ada sebagian yang lain terlelap maka ndak ada pikiran untuk mengecek anggotanya satu sama lain, dan sang supirpun menghidupkan mesin lalu menancap gas.tak lama kemudian orang yang tertinggal itu keluar dari toilet dan mencari dimana bus yang membawa rombongannya....dia pun sadar bahwa dia nampaknya tertinggal dari rombongannya...dia pun marah-marah dan mengucap sumpah serapah,namun walau bagaimanapun juga bus rombongan sudah jauh meninggalkan dirinya dan kemarahan dan sumpah serapah pun tidak banyak membantunya...yang jelas mau tidak mau dia harus berusaha entah dia mencari duit untuk dia gunakan ongkos pulang ke jogjakarta, atu lapor ke polisi minta di anter ke jogjakarta, dan apapun saja yang bisa membuat dia sampai ke kotanya, karena dia tidak punya uang sepeserpun karena semua barang ikut ter bawa di tas di dalam bus rombongan".

Dari cerita ini beliau coba tegaskan bahwa jadilah kita semua menjadi orang yang berselasai jiwanya atau janganlah kamu terus ratapi kisah yang tidak mengenakkan dan cenderung menyalahkan orang lain untuk di jadikan kambing hitam, toh masih lebih banyak kisah-kisah hidup kita yang lebih mengenakkan kita.

kurang lebih begitu sepirit yang saya tangkap dari kisah diatas, walaupun itu cuma gambaran saja dari cak-nun.
Semoga bisa menjadi pencerahan bagi hati kita ini dalam menjalani hidup ini !

Rabu, 20 Agustus 2008

DUNIA SERBA TUHAN

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan

Jayalah Bumi Pertiwi

Agustus bagiku adalah suatu bulan yang sangat keramat, kenapa saya katakan begitu...karena suatu bulan dimana Bangsa ini lahir menjadi bangsa yang punya integritas dan karakteristik nan agung.
mungkin benar adanya kata sebagian orang, kalo rasa nasionalisme kita sebagai putra bangsa mulai memudar...! terutama generasi mudanya yang sekarang punya kiblat baru dalam patokan bergaya hidup(lifestyle) gitu bleh.....hick!
Mereka cenderung bersikap konsumtif, acuh terhadap sesama hah....ungkapan apalagi yang tepat untuk kelakuan orang-orang yang seperti itu,jijik rasanya...dia tidak mau tau apa arti nasionalisme, bagaimana menghargai jasa para bunga bangsa yang gugur di medan laga, yang ada di benaknya hanyalah bagai mana caranya untuk mendapatkan kedudukan sekalipun harus sikut sana-sikut sini.
Namun bagi saya,dan mungkin teman-teman yang masih tertancap kuat idiologi Pancasila di dalam jiwanya pastilah tidak akan rela Ibupertiwi terus memerus merintih karena masih banyak ketimpangan di bumipertiwi Indonesia ini.
kita sebagai putra bangsa dan penerus bangsa ini hendaklah sejenak menghayati dan menyelami makna lagu kebangsaan kita "Indanesia Raya" pada bait yang berbunyi "bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk indonesia raya"' didalam kalimat tersebut tersirat amanat untuk kita bangkit dan berusaha untuk menjadikan indonesia yang jaya,memang tidak lah mudah untuk merealisasikannya...di butuhkan nafas yang panjang dan semangat pantang menyerah. Kenapa didalam bait di atas di sebutkan "bangunlah jiwanya" dulu baru "bangunlah badannya" adalah benar kita di tuntut untuk ada krentek atau niatan yang kuat dulu dari dalam hati baru di aplikasikan dalam tindakan yang nyata dalam bidang apapun unut kemajuan Bangsa ini.
Jayalah terus Indonesia-ku.....
Merdeka...!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More