"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Senin, 01 Maret 2010

Kekuatan Yang Mendasari Kekuatan


Ditulis Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

Sembilan tahun yang lalu, ketika masih merantau di negeri orang, ada momentum di
mana saya menggelandang beberapa bulan, tak punya tempat tinggal dan tak
begitu punya uang, sehingga sempat menjadikan sebuah masjid terbesar di
kota itu sebagai tempat tinggal. Tempat di mana saya mendapatkan sebuah jawaban menarik dari sebuah pertanyaan sederhana. Pertanyaan itu
adalah, “kenapa saya merasa bahwa umat Islam terasa lebih solid di
negara non-Islam daripada negara yang mayoritas beragama Islam?” Jawaban
dari Syeikh di mesjid tersebut, ”di mana pun, minoritas punya
kecenderungan untuk berkumpul bersama demi membangun sebuah kekuatan.

Dengan syarat di antara mereka harus mampu melupakan/menghargai
perbedaan-perbedaan kecil di antara mereka.”

Ini bukan tentang
Islam. Ini kecenderungan psikologi manusia di mana yang merasa minoritas
biasanya akan bereaksi dengan berkumpul bersama, berorganisasi, bikin
gank atau apalah, demi mendapatkan sebuah kekuatan dari jumlah yang
besar.

Kalau mau jujur, sepertinya jamaah Maiyah juga bisa
dikatakan semacam ‘kumpulan’ orang-orang.
Saya pribadi belum berani
mengambil kesimpulan apakah anggotanya adalah kumpulan orang-orang
minoritas atau bukan. Yang pasti kita bisa mencari sebenarnya jenis
‘kekuatan‘ yang mana yang dicari oleh Jamaah Maiyah ini. Politik,
ekonomi, sosial-budaya?

Kekuatan politik. Untuk menjadi sebuah
kekuatan politik, sekumpulan orang seharusnya (harus ala Indonesia)
membentuk sebuah partai politik. Ada anggotanya, ada organisasinya, ada
pengurusnya dan tak lupa ada lambangnya untuk dicoblos. Oh, maksud saya
dicontreng. Tapi sepengamatan saya Jamaah Maiyah belum pernah bergerak
ke arah itu. Berarti mungkin bukan kekuatan politik yang dicari.

Kekuatan
ekonomi. Untuk menjadi kekuatan ekonomi, sekumpulan orang biasanya
membuat sebuah perusahaan, atau minimal perjanjian di antara mereka.
Yang efeknya adalah, mereka yang ada dalam perjanjian tersebut merupakan
satu entitas di mata dunia ekonomi. Contohnya begini, saham perusahaan
bisa berfluktuasi sesuai keadaan pasar global. Akan tetapi gaji pekerja
dalam perusahaan tidak fluktuatif seperti sahamnya. Jadi perkumpulan
yang bertujuan sebagai kekuatan ekonomi, paling tidak memiliki komitmen
di antara satu anggota dengan anggota yang lain untuk bersama-sama
sebagai satu kesatuan yang utuh dalam menghadapi pasar luas. Lagi-lagi
saya pribadi tidak melihat ini di Jamaah Maiyah.

Kekuatan sosial
budaya. Kemampuan untuk mempengaruhi atau menahan sebentuk kondisi.
Mungkin di Jamaah Maiyah kita bisa mengatakan ‘ada’ tentang pembentukan
kekuatan ini, walaupun untuk mendapatkan ukuran secara pasti dan
kuantitatif akan sangat tidak mudah.

Ketika terlibat di
lingkungan ini, dari tindak-tanduk, kebiasaan, dan mekanisme, saya
melihat sebuah potensi yang berbeda. Jamaah Maiyah tidak membentuk
sebuah padatan yang diterjemahkan menjadi kekuatan. Jamaah Maiyah
sepertinya berusaha mencari dan menemukan bahan mentah (cair) yang bisa
membentuk padatan-padatan tersebut.

Semoga tidak terlalu
muluk-muluk jika saya mempunyai harapan yang besar bahwa Jamaah Maiyah
mampu membentuk sebuah jenis kekuatan yang baru. Yaitu kekuatan NILAI.
Sebuah kekuatan yang mendasari kekuatan-kekuatan yang lain. Kekuatan
nilai yang matang akan bisa diterjemahkan menjadi kekuatan-kekuatan yang
lain. Dan kekuatan-kekuatan yang terbentuk dari kekuatan nilai akan
menjadi sesuatu yang lebih komprehensif untuk (dalam) kebersamaan.
Kekuatan ekonomi yang mampu memaslahatkan banyak orang, kekuatan politik
yang bertanggung jawab, dan kekuatan sosial politik yang cerdas dan
tidak dangkal-romantis.

Tentu itu sekadar harapan dan pandangan.
Yang bisa mendefinisikan Jamaah Maiyah adalah Jamaah sendiri. Ketika ini
adalah kekuatan nilai, berarti semua sudah dewasa menghadapi ekonomi,
politik, sosial dan budaya. Sampai titik yang manakah kita sekarang?

Sumber: Kenduri cinta.com.

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More