"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Rabu, 03 Maret 2010

Hilangnya Sang Pentafsir


Ditulis Oleh: Yeni Uswatun Hasanah

Malam itu, sepanjang jalan menuju ke Taman Ismail Marzuki
diguyur hujan. Tak sempat mengikuti kegiatan “wajib” awal Kenduri
Cinta, yakni membaca Al-Qur’an dan bershalawat dengan nada yang sudah
dicontohkan oleh Kiai Kanjeng. Memang, mulai bulan Februari ini, seluruh
kegiatan Jamaah Maiyah (Padhang mBulan, Mocopat Syafa’at, Gambang
Syafa’at, Bangbang Wetan, Obor Ilahi dan Kenduri Cinta) kembali
deseragamkan, dengan pola yang sama, yang berbeda adalah isi pada acara
forum bebas, karena pengisi acara berbeda di tiap tempat.

Malam itu Bapak Nursamad Kamba membahas tentang makna ma’iyah, yang
mana ini adalah tema untuk bulan ini dalam Jama’ah Maiyah, merujuk pada
buku “Maiyah di dalam Al-Qur’an“ yang ditulis oleh Cak Fuad. Dan tema
Kenduri Cinta malam itu adalah “Hilangnya Sang Pentafsir”.

Maiyah berarti kebersamaan, dan kebersamaan di KC ini adalah
kebersamaan yang bisa dikatakan “maiyatul haq bil haq” yang
berarti maiyah dengan kebenaran dan dengan cara yang benar pula.
Kemudian beliau memaparkan seringnya kata maiyah ini di gunakan pada
masa rasulullah. Yang pertama ketika rasulullah berada di gua
hiro, saat di kejar kaum Qurais, beliu mengatakan “ la tahzan,
innallaha ma’ana”
jangan bersedih Allah bersama kita.


Yang kedua adalah ketika rasulullah ber-isro’ mi’roj Allah memberi salam kepada Rasul dan Rasulpun demikian (bertemu dalam kebersamaan). Kemudian saat Piagam Madinah, semua orang
bermaiyah, apapun agama dan kepercayaannya namun mereka punya satu cinta untuk Madinah.



Beliaupun menjelaskan 3 tahapan yang harus di jalani untuk dapat bermaiyah dengan
Allah. (ma’aLLah).

Yang pertama adalah terbetik, mengikuti kata hati. Suara hati ini juga sering di sebut nurani, yang
selalu bercahaya dan mengatakan kebenaran. Tahapan ini juga bisa di
ibaratkan sebagai takhalli, melepaskan diri dari hal-hal yang
bersifat keduniaan. Karena keduniaan yang di perlukan oleh fisik kita
ini hanya akan menimbulkan kekhawatiran, ketakutan, iri hati dengki, dan
kegelisahan yang tak usai. Sibuk mengikuti nafsu dunia, tentang harus
makan enak, tidur di kasur empuk, dan dialiri sepoi angin pendingin
ruangan, semua hanya sementara. Dan bagaimana jika kita tak mampu
memenuhinya? Pastilah sakit hati, timbul gelisah dan pokoknya gak
enak lah,
hingga akhirnya stres, karena tarikan nafsu-nafsu dunia
yang begitu kuat.

Namunketika sudah mengosongkan diri dari keduniaan tak ada derita, tak ada
kegelisahan, tak ada kekhawatiran. Yang ada hanyalah bahagia dan
mencinta. Hujan deras, cuaca yang dingin menusuk, alas yang basah tak
pernah menyurutkan semua jama’ah untuk datang. Duduk di tempat basah tak
terasa dingin, di terpa angin tak merasa menggigil, apalagi kantuk,
sudah di kantongi dalam plastik-plastik yang kami tali mati. Kami sedang
berselimut cinta, mendendangkan lagu-lagu cinta, dipayungi langit yang
penuh cinta.

Mengapa harus mempersalahkan hujan? Bukankah dia
yang menumbuhkan sebutir benih menjadi setangkai padi, mengalirkan air
kesungai-sungai yang bergemuruh damai, menumbuhkan rumput yang segera di
panen rusa, kerbau , sapi, jerapah, kambing, dan menjadi rumah bagi
semut, ular, serangga dan banyak lagi. Mengapa bersedih jika sesama kita
bahagia? Mari meneruskan tebaran cinta, walaupun sebenarnya kita ini
cuma ikut-ikutan Allah yang selalu mencinta dan Muhammad yang ahli mencinta.

Yang kedua adalah mencintai Rasulullah, dengan
mencintai Rasulullah kita berharap mendapat percikan dari tetesan
samudra cinta Allah yang tanpa batas. Dengan inilah kita sering
bersolawat kepadanya, atau dikatakan nggondeli klambine rasulullah,
agar kita juga di aku sebagai kekasih juga. Karena kita bukan
siapa-siapa, tak ada yang bisa kita andalkan, selain nggondeli
klambine
Rasulullah tadi. Mencintai Rasulullah adalah meneladainya.
Sehingga setelah kita mengosongkan tentang hal keduniaan maka kita akan
mengisinya dengan kebaikan-kebaikan (Tahalli), serta mengingat
Allah dengan rasa yang senang.

Yang ketiga adalah Cinta Alquran,
mencintai Al-quran adalah membaca surat-surat cinta dari Allah,
walaupun kadang tak tau maknanya sering terasa terenyuh, hingga akhirnya
meneteskan air mata. Cinta terasa, inilah cinta. Cak Nun
mengibaratkannya dengan sebuah cerita, seorang ibu yang menerima
surat dari anak yang tentu sangat dicintainya, baru menerima dan belum
membacanya Ibu ini sudah menangis sambil mendekap surat anaknya, dengan
haru dan mesra ibu baru membacanya. Penyatuan cinta kepada Allah ini di
katakan sebagai Tajalli, bergabung dengan Allah, ma’aLLah.


Penulis mencoba mencari referensi lain mengenai ketiga
unsur tersebut (
Takhali, Tahali,dan
Tajali)
, dimana ditemukan
simbol yang
terdapat pada candi Borobudur sepertinya memiliki hubungan dengan ketiga
unsur tersebut, yang digambarkan dalam 3 komponen, yaitu Kamadhatu,
Rupadhatu dan Arupadhatu, dimana Kamadhatu, adalah dunia nafsu (the
world of desires),
Rupadhatu adalah dunia bentuk (the world of forms), sedangkan Arupadhatu adalah
dunia tak berbentuk (the formless world), entah apakah ini bisa
atau tidak bila ditafsirkan sebagaimana penafsirkan Takhalli, Tahalli
dan Tajalli dalam konteks Islam. Mungkin, diperlukan ruang khusus untuk
memetakan lebih dalam yang menyangkut dimensi ruang dan waktu mengenai
Nusantara dan seluk-beluknya.

Mari menuju Allah tanpa menjelekkan
kelompok lain, mari mengikuti pertanda. Pertanda yang sudah Allah kirim
lewat tetumbuhan, yang semua ingin menggapai cahaya, namun tak pernah
menyodok batang yang lain tak ada yang berebut, mereka berbagi cahaya.
Mari menuju Allah seperti perjuangan laron yang ingin menuju cahaya, tak
peduli hujan, badai, petir menghalang, jika ini memang jalan menuju
cahayaMu, walupun harus mati, aku mati mempertahankan cintaku pada-Mu.
Walaupun jika akhirnya selamatpun aku harus mati terkena cahaya yang
sangat, aku rela karena di ujung derita Engkau bertahta.


Sumber:
kenduricinta.com

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More