"Dan Berbahagialah Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, yang Senantiasa Mengingat Tuhan-nya dalam keadaan Lapang dan Sempit..."


Kamis, 23 September 2010

Slamet Pusarbumi

Siapakah orang Jawa pertama yang mendarat di bulan?

Slamet.
Lho?!
Iya. Bahkan Edwin Aldrin disebut belakangan dan Michell Collin tak seberuntung Slamet.

Dengarkan berita itu kembali dengan seksama:
“Niels Armstrong telah mendarat di bulan dengan Selamat…”
Tentulah ucapan bahasa Indonesia yang baik dan benar menyebut Slamet dengan selamat.
Makanya, aja dumeh. Jangan pernah remehkan kami orang Jawa. Bahkan, dulu, Nabi Nuh itu aslinya orang Jawa. Kalau tidak, bagaimana mungkin beliau bisa bikin perahu raksasa. Di Timur Tengah hanya ada padang pasir dan kegersangan.

Rabu, 22 September 2010

Curhat Setan: Al-Quran yang Dibakar!

Pembatalan pembakaran Al-Quran hanya omong kosong belaka. Faktanya, dua pendeta justru melakukannya. Yang melakukan bukan Pendeta Terry Jones, tapi kedua pengikutnya. Pendeta Bob Old bersumpah melaksanakan aksinya membakar Al-Quran. Bersama Pendeta Danny Allen, Old melakukan aksinya di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media, Sabtu (11/9) lalu, sama persis pada hari yang dideklarasikan Terry Jones.

Kedua pendeta itu menyiram dua buah mushaf dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api. Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu.

Reportase KC Agustus 2010: “Nyanyian Sunyi di Pojok Sejarah”


oleh : Ratri Dian Ariani
Alhamdulillah hujan bersedia reda sejak sekitar jam enam sore. Setelah dibuka dengan tadarus, Kenduri Cinta (Jumat, 20/8) diisi dengan sedikit uraian mengenai judul yang dipakai pada malam itu. Nyanyian Sunyi diambil dari judul buku puisi Amir Hamzah. Nyanyian mengacu ke ruang, sedangkan sejarah merupakan hal yang berhubungan dengan waktu. Setelah satu dua kalimat pembukaan itu, masuklah Kiaikanjeng
dan kemudian Cak Nun. Selepas menyanyikan beberapa lagu termasuk Shohibu Baiti,Cak Nun berharap semoga hal itu tidak pernah dianggap sebagai pertunjukan seni, melainkan sebuah sarana spiritual detoxification. Saat ini, hampir semua yang ada merupakan racun. Diam-diam kita sudah bersepakat untuk menganggap racun sebagai bukan-racun, yang ikut pula ditandai oleh Allah dengan adanya “Keong Racun”.

Kamis, 16 September 2010

Cak Nun: Pemimpin Belum Memiliki Moralitas

Metrotvnews.com, Surabaya: Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menilai pemimpin Indonesia hingga kini belum memiliki moralitas. “Mulai dari Presiden SBY, menteri, hingga anggota DPR/DPRD nggak mau berubah. Tunggu saja, nanti akan ada yang mengubah,” katanya di Surabaya, baru-baru ini.
Ia mengemukakan hal itu dalam Buka Bersama dan Shalat Tarawih Keluarga Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan Cak Nun. Dalam acara bertopik “Excellence with Morality” itu, Cak Nun memberi apresiasi dengan semangat Unair yang mengusung visi dan misi “Excellence with Morality.”
“Itu karena di Indonesia enggak ada yang mau berubah. Mereka `nyolong` (korupsi) seenaknya sendiri,” katanya didampingi Rektor Unair Prof Dr H Fasich pt.
Suami dari artis Novia Kolopaking itu

Kamis, 02 September 2010

MUHAMMADKAN HAMBA YA RABBI

Puisi: Emha Ainun Nadjib

Di setiap tarikan napas dan langkah kaki
Tak ada dambaan yang lebih sempurna lagi
Di ufuk jauh kerinduan hamba Muhammad berdiri
Muhammadkan hamba ya Rabbi

Muhammmadkan ya Rabbi hamba yang hina dina
Seperti siang dan malammu yang patuh dan setia
Seperti bumi dan martahari yang bekerja sama
Menjalankan tugasnya dengan amat terpelihara

Rabu, 01 September 2010

kerendahan hati

kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tetapi belukar yang baik
yang tumbuh di tepi danau

kalau engkau tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More