Bahagia rasanya lebaran kali ini kami masih bisa rayakan bersama Ibu/Bapak serta kakak dan saudara semua di kampung halaman, mungkin sudah menjadi tradisi bagi orang indonesia pada umumnya tak luput dengan saya juga. sudah setahun saya tidak pulang ke kampung halaman, tidak sengaja saya pandangi ibu saya yang sedang membantu bapak mengerjakan pesanan jahitan tetangga, kali ini saya agak serius memandangi Ibu, saya rasakan ada yang mulai berubah dari raut mukanya,rambut yang sudah mulai memutih, padahal baru saya rasakan belai lembutnya saat saya masih bayi, namun kita semua adalah manusia biasa yang tidak bisa mementang sunatulloh yang lama kelamaan kita pun akan beranjak tua. dan ini sedang tergambar pada raut muka ibu saya.
Terkadang saya merenungi hidup diri saya ini, yang beranjak dewasa namun saya belum bisa membantu atau membahagiakan Ibu/Bapak saya, mungkin mereka tidak pernah mengharapkan imbalan kepada anak-anak nya namun naluri manusia saya kadang tergugah, karena hidup adalah ibarat estafet yang apabila si pelari itu sudah sampai pada saatnya untuk memberikan tongkat estafet itu ke pada pelari berikutnya, maka selesailah sudah pelari itu dalam perlombaan.
Untuk bisa saya membalas budi baik orang tua yang merawat dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anak-anaknya saya harus menjadi orang yang dalam ekonomi mapan tentunya, saya sadar benar untuk bisa seperti itu saya harus bisa punya pekerjaan yang mapan juga, namun saat ini banyak sarjana yang juga tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Semoga hikmah midik kali ini bisa saya ambil sepiritnya untuk saya bisa menata langkah untuk meraih tujuan hidup yang paripurna.
Ya Alloh kiranya engkau selalu mendengar do'a setiap hamba....
Engkau yang menjanjikan kepada setiap hanba akan mengabulkan setiap do'a....
maka saya mohon kabulkan lah do'a saya....ya alloh, karena saya yakin itu.







0 komentar:
Posting Komentar